Mau di BENTUK OLEH Allah

 

Di dalam kitab ini ditemukan pesan-pesan yang harus disampaikan oleh Nabi Yeremia kepada bangsa Israel.Dalam menjalani hidup Yeremia bukan dalam keadaan baik-baik saja, tetapi ia mengalami berbagai kesulitan dalam hidupnya, yaitu menghadapi bangsa Isreal yang tegar tenggkuk, bangsa yang mengerasakan hati. Saudara-saudari yang terkasih jika kita perhatikan kehidupan kita, maju selangkah demi selangkah, itulah perjalanan hidup yang normal. Tidak ada orang yang dapat berjalan dengan dua langkah sekaligus. Pembentukan diri kita, baik secara fisik ataupun karakter, kepribadian, sifat dan pola tingkah laku, semuanya bertumbuh setahap demi setahap. Demikian pula yang dilakukan oleh tukang periuk ketika membentuk sebuah bejana.

Dalam kitab Yeremia pasal 18, Yeremia diminta Tuhan untuk pergi ke tukang periuk karena Tuhan ingin memperdengarkan suaraNya. Yeremia datang tepat ketika tukang periuk sedang bekerja membuat sebuah bejana. Saudara-saudari yang terkasih di dalam Yesus Kristus seorang tukang periuk tentunya memiliki beberapa langkah dan proses untuk membuat sebuah bejana (lihat langkah pembentukan bejana), mulai dari persiapan tanah liat yang akan digunakan, menempatkan tanah liat pada meja kerja yang dapat berputar sehingga tanah liat mudah dibentuk, membentuk tanah liat menjadi benda yang mempunyai kegunaan, pembakaran bejana yang sudah dibentuk agar menjadi kuat, proses pendinginan agar hasilnya lebih sempurna, hingga proses penyempurnaan tampilan bejana agar menjadi jauh lebih indah. Di dalam Yeremia 18:4 dikatakan bahwa “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”

Tuhan membawa Yeremia untuk belajar dari tukang periuk karena Tuhan ingin memberitahukan bahwa manusia memiliki proses kehidupan yang mirip dengan bejana yang sedang dibentuk. Karena kita tahu bahwa dalam pembentukan tanah liat bukan hal yang mudah atau secara otomatis berubah menjadi bejana yang indah, menjadi sebuah bejana yang berkualitas. Jika salah satu langkah saja dilewatkan, maka tukang periuk tidak akan memperoleh sebuah bejana yang baik. Mungkin saja dia hanya akan memperoleh bejana yang bentuknya kurang bagus, permukaannya retak-retak, penampilannya tidak berkilau, tidak dapat bertahan lama, atau kekurangan lainnya yang dapat ditemukan.

Saudara-saudari di dalam Tuhan ketika tanah liat tidak mengikuti bentukan dari tangan tukang periuk dan menjadi rusak, maka prosesnya akan diulang kembali. Tanah liat akan disatukan kembali, dipukul-pukul atau bahkan dibanting ke meja, agar mudah dibentuk kembali. Yeremia ketika berada di rumah Tukang periuk, ia memperoleh pangalaman dan pembelajaran baru. Yeremia dengan matanya sendiri, ia menyaksikan cara kerja tukang periuk yang sangat menarik. Gambaran itulah yang disampaikan oleh Yeremia tentang kehidupan umat-Nya yang sudah retak, rusak, bahkan pecah. Yeremia mengajak mereka untuk datang kembali kepada Sang Tukang Periuk, yakni Tuhan. Jika umat-Nya benar-benar mau menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dia.

maka Dia akan  membetulkan bejana hidup yang sudah retak, bahkan remuk berkeping-keping itu. Dia akan memperbaikinya dan meleburnya menjadi adonan yang baru, lalu membentuknya kembali menjadi bejana yang indah, yang sedap dipandang mata. Dan yang terpenting adalah periuk itu menjadi bejana yang lebih berguna dan lebih bermanfaat daripada sebelumnya karena Dia terus memperbaruinya.

Begitu dalam kehidupan kita, kita dituntut untuk mengerti bahwa tidak ada momen dalam kehidupan kita yang bukan merupakan proses bagi hidup kita. Seperti tanah liat yang tidak berharga jika tidak dibentuk oleh Tukang periuk, begitu juga kita tidak berharga jika kita tidak dibentuk oleh tangan Tuhan. Setiap momen, setiap langkah merupakan bagian dari proses kehidupan. Oleh karena itu kita terus diingatkan oleh Firman Tuhan bahwa kita harus terus belajar merelakan hidup kita, memiliki hati yang rela, memiliki hati yang berserah kepada Tuhan, agar hidup kita dapat dibentuk oleh tangan Tuhan. Suka atau tidak suka kita tidak akan bernilai apa pun, jika kita tidak diproses oleh Tuhan.

Saudara-saudarai yang terkasi di dalam Yesus Kristus kita tahu bersama bahwa bangsa Israel adalah umat pilihan Allah, sebagai umat pilihan Allah mereka tidak dalam keadaan baik-bak saja. Setiap kita mengeraskan hati, bersungut-sungut kepada Tuhan dan tidak bersyukur atas apa yang meraka miliki, maka hidup bangsa Isreal bagaikan tanah liat yang keras yang susah dibentuk. Tuhan akan mengijinkan perkara-perkara yang akan membuat mereka menjadi mudah dibentuk sesuai dengan rencanaNya. Kisah bangsa Isreal adalah sebuah kisa yang sangat bersejarah sepanjang kehidupan kita, dari bangsa Isreal kita belajar bahwa kehidupan yang memberontak, kehidupan yang bersunggut-sunggut bukanlah kehidupan yang layak di mata Tuhan.

Dalam kebenaran Firman ini mengejarkan kita bahwa merelakan hati kita untuk menjalani proses yang sedang Tuhan ijikan terjadi dalam hidup kita. Bersyukur atas proses pembentukan yang sedang Tuhan kerjakan melalui berbagai macam perkara. Akan ada saatnya dimana kita akan melihat hasil bentukan tangan Tuhan bagi hidup kita dan kita akan bersyukur atas apa yang telah kita alami bersama Tuhan.

Firman Tuhan mengatakan seperti itulah kehidupan kita, yang diibaratkan seperti tanah liat di tangan si tukang periuk. Awalnya tidak berarti dan berharga sama sekali. Namun ketika tukang periuk mengambil kita dari kehidupan yang tidak memberikan arti itu, dan Ia mulai membentuk kita seturut kehendak-Nya dan akhirnya kita pun menjadi berharga. Proses pembentukan Allah memang tidaklah mudah. Banyak hal yang kita lewati Kita, seperti tahap-tahap dalam pembentukan sebuah bejana. terkadang kita merasakan sakit hati, tersinggung, marah, dan kecewa. Namun itulah proses pembentukan untuk menjadi sebuah bejana yang bernilai. Kita harus rela memberikan hidup kita untuk menjalani proses pembentukan itu, karena Sang Penjunan tahu persis bagaimana kehidupan kita kelak.

Makanya Ia pun membentuk kita sesuai kehendak-Nya. Ia memperbaiki kehidupan lama kita dan memolesnya menjadi lebih indah lagi sehingga menjadi alat yang berguna bagi kemuliaan-Nya. Saudara, jangan pernah menyerah bila saat ini hidupmu sedang mengalami pencobaan. Memang pencobaan itu datangnya bukan dari Tuhan, tapi Tuhanlah yang mengizinkan kita mengalaminya.  Karena ini adalah sebuah proses hidup yang harus kita lewati. Proses menuju keindahan dan kesempurnaan, agar kita menjadi bejana-bejana yang indah di tangan Allah, mempunyai arti dan nilai bagi sekitar kita. Jadi jangan pernah tawar hati dengan proses Tuhan. Sebaliknya, berilah diri kita untuk dibentuk seturut kehendak-Nya. Amin Kebenaran Firman Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REFLEKSI KITAB KEJADIAN-ULANGAN